Tampilkan postingan dengan label Puisi Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Cinta. Tampilkan semua postingan

Kepergian Senja



Kepergian senja ...
Cakrawala terasa memilukan
Karena tak ingin lagi kurasakan
Dingin malam yang merasuk sukma
Menanti terbitnya buatku terjatuh terlalu dalam
Hingga lelap berikanku kesempatan
Hanya saja bukan mimpi indah tentangnya

Harapkan kedatangannya
Berikan kehangatan
Hadirmu kala redupnya dunia
Ceritamu yang hangatkan s'galanya
Bermimpilah bersamaku
Di lelap anganku
Ceritakan sedikit keluh kesahmu
Meski sebatas angan
Dan luasnya langit terbentang
Tetaplah diri ini tak mampu ungkapkan!
.
Harapan yang hanya sekedar luapan
Emosi yang terbendung terlalu dalam
Biarlah ... kutanggung s'mua beban

Karena ... tak ingin kau juga merasakan
Pahit dunia jikalau senja sirna
Akhir cerita keindahan nirwana
Kini harus kuarungi dunia fana
Dengan perasaan yang nyata
Yang masih tertahan s'gala dusta

Tetaplah tiada mampu
Terbang ke langit sana!
Sayap yang dirasa rapuh
Hati yang tiada sanggup tersentuh
Yakinkan diriku tuk slalu teguh
Namun tetaplah luluh
.
Langkah yang dirasa berat
Cahaya tertutup kabut pekat
Jatuhkan diriku yang tiada sanggup tuk dekat
Lesapkan erat sisa harapan

Kemanakah arah laju waktu ?
Terangilah redup hatiku
Yang kan iringi sisa mimpiku
Dan jatuh lelap bersamamu

Disisa akhir mimpiku
Harapkan kau ada di sana
Terbangun ... melihatmu luluhkannya
Tetes embun dan hangat mentari
Kicau burung yang tenangkan hati
Ranting-ranting lambaikan kebahagiaan
Dedaunan jatuh tergoyah angin

Kumohon ... Hentikan khayal ini
Kau tetaplah sebatas angan
Yang t'lah cukup terbiaskan
Kumohon ... Goyahkan s'mua yang ada
Harapkan jikalau memang nyata
Meski sebatas duka tertinggal
Setidaknya kan cukup akhiri semua
Meski sebatas luka torehkan
Setidaknya kan cukup awali sebuah cerita

Surakarta, 9 Mei 2017

Tetaplah Menjadi Cerita



Setiap jengkal nya terasa hangat
Dingin malam yang t'lah jauh terlewat
Sampaikan pesan-pesan penuh harap
Angkuhnya laju waktu menutup rapat

Mungkin kini kau t'lah terlelap
Masih ku terjaga dari indah cerita
Masih ku berharap angan kan kabulkan nya
Bayang nya di lelap mimpiku

Beralaskan asmara yang menggebu
Layaknya rembulan yang terangi kalbu
Serta pijar bintang di gelap cakrawala
Berharap setiap malam kan selalu sama
Kala senja menepi di ujung samudera
Kau berikan harap untuk mengejarnya

Yang t'lah Mati

 
Cahayanya lama dirindukan
Namun timur tak berkata demikian
Hanya terlihat gelap awan
Hanya kesepian malam rembulan

Waktu ... seakan lambat berputar
Penantian dengan rasa yang t'lah legam
Asmara ... rasakan ia memudar!
Terlelap perlahan dan jatuh tenggelam

Katakan, jika memang benar adanya!
Apa daya sayap selain tuk terbang
Sendiri menuju indah cakrawala
Tanpa satu pun yang temani nya
Hingga terlarut terbawa mimpi
"Akankah asmara ini t'lah mati!"

MAAF




Tidak!
Aku bukanlah orang yang baik hati
Iya!
Aku hanyalah seorang manusia yang penuh dengan dosa

Yang tak luput dari masalah
Yang tak lepas dari amarah
Yang sering menjadi tak terarah
Yang bangga akan salah

Akan berlabuh kemanakah perahu ini
Akan beranjak kemanakah hidupku ini
Begitu kata orang bijak

Betul!
Aku hanyalah seorang yang hanya bisa terhanyut dalam angan
Tapi!

Dirimulah yang menjadi kendaliku

Yang menjadi obat pereda saat diriku marah 

Yang menjadi semangat saat aku terpuruk
Yang membuatku tersenyum saat terobsesi oleh amarah
Yang selalu! selalu! selalu menutupi lubang di diriku

Cinta bagaikan candu
Yang menyakitkan tapi juga membuatmu lagi.. dan lagi


Tidak!
Tidak akan pernah bosan aku meminta maaf

Selalu

Hujan Lagi




Adakah engkau tak sudahi
S'makin larut rintik basahi
Rindukan hangatnya senja sejenak
Tak sanggup lagi tuk beranjak

Mengalir entah kemana?
Kau bawa luka yang pernah terlupa
Hasut lamunan tiada ku mengerti
Tiada lagi payung tuk ku kembali

Semakin gelap engkau terlihat
Tiada cahaya ... tiada harap
Rintik mu merambah hingga terhenyak

Perlahan kembali ku teringat
Kau paksa bangunkan dalam sekejap
Pergilah dan bawa s'gala jejak

Cerita Kala Senja

"Jikalau mentari menuju senja"
Katakanlah semua t'lah tiada
Nikmati semerbak hangat terasa
Tanpa setangkai bunga untuk menyapa

"Bawalah rindu kalbu ini"
Serupa engkau datang dan pergi
Meniti waktu yang kian selimuti
Hingga habis ambisiku untuk bermimpi

Tiada sudut lagi ku tuk berpaling
Cukup sudah terpaan kala senja
Tak ingin malam kan terasa hening
Ingin ku jatuh lelap dan kan terlupa
Ingin ku pagi mungkin kan sambutnya
Hingga hadir rasa tuk jalin asmara

Yang tak Dimengerti



Adakah yang lebih indah
Dari seorang pujangga yang menanti cinta
Bait-bait kata tercipta di setiap detik penantiannya
Curahan asmara mewarnai sepi yang ia nikmati

Menerka apa yang kan ia dapati
Di kala badai t'lah berganti pelangi
Menari di tengah hujan
Khayalkan rasa yang ia teguhkan

Tiada setapakpun jalan yang ia sesalkan
Tiada sedikitpun sepi yang menggoyahkan
Hanya ia yang menerima siksa, berdo'a dalam diamnya
Tanpa menuntut bahagia atas pergorbanan yang tak terlihat oleh mata


Oleh : CayKun