Tampilkan postingan dengan label Puisi Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Sedih. Tampilkan semua postingan

Tiada Arti












Ketakutan yang terendam
Di lepas lautan tak berujung
Tersapu oleh ombak tinggi
Titik tepi rasa sepi

Harapkan bintang kan tunjukan jalan
Namun tiada satu pun bersinar
Tertutup pekatnya kabut!
Redup buat s'mua terasa suntuk

Jikalau mentari kan hadir
Tetaplah tiada arti
Jikalau engkau ada disini
Tuntunlah rasa sepi hati ini
"Lelahku menanti datangnya hari!"
Karena cahaya yang tiada arti

Kepergian Senja



Kepergian senja ...
Cakrawala terasa memilukan
Karena tak ingin lagi kurasakan
Dingin malam yang merasuk sukma
Menanti terbitnya buatku terjatuh terlalu dalam
Hingga lelap berikanku kesempatan
Hanya saja bukan mimpi indah tentangnya

Harapkan kedatangannya
Berikan kehangatan
Hadirmu kala redupnya dunia
Ceritamu yang hangatkan s'galanya
Bermimpilah bersamaku
Di lelap anganku
Ceritakan sedikit keluh kesahmu
Meski sebatas angan
Dan luasnya langit terbentang
Tetaplah diri ini tak mampu ungkapkan!
.
Harapan yang hanya sekedar luapan
Emosi yang terbendung terlalu dalam
Biarlah ... kutanggung s'mua beban

Karena ... tak ingin kau juga merasakan
Pahit dunia jikalau senja sirna
Akhir cerita keindahan nirwana
Kini harus kuarungi dunia fana
Dengan perasaan yang nyata
Yang masih tertahan s'gala dusta

Tetaplah tiada mampu
Terbang ke langit sana!
Sayap yang dirasa rapuh
Hati yang tiada sanggup tersentuh
Yakinkan diriku tuk slalu teguh
Namun tetaplah luluh
.
Langkah yang dirasa berat
Cahaya tertutup kabut pekat
Jatuhkan diriku yang tiada sanggup tuk dekat
Lesapkan erat sisa harapan

Kemanakah arah laju waktu ?
Terangilah redup hatiku
Yang kan iringi sisa mimpiku
Dan jatuh lelap bersamamu

Disisa akhir mimpiku
Harapkan kau ada di sana
Terbangun ... melihatmu luluhkannya
Tetes embun dan hangat mentari
Kicau burung yang tenangkan hati
Ranting-ranting lambaikan kebahagiaan
Dedaunan jatuh tergoyah angin

Kumohon ... Hentikan khayal ini
Kau tetaplah sebatas angan
Yang t'lah cukup terbiaskan
Kumohon ... Goyahkan s'mua yang ada
Harapkan jikalau memang nyata
Meski sebatas duka tertinggal
Setidaknya kan cukup akhiri semua
Meski sebatas luka torehkan
Setidaknya kan cukup awali sebuah cerita

Surakarta, 9 Mei 2017

Yakinlah!


T'lah lama sudah kita berjalan
"Sadarlah, hinggap rasa keangkuhan!"
Jelmakan rasa amarah yang terpendam
Dan membusuk terpenjarakan

Seuntai kata tetap tiada guna
Curahan s'gala rasa tertepis dusta
Masih Ingatkah kau yang t'lah terjadi
Berharap kau kan sadar s'lama ini

Masih ku disini nantikan hari
Mencoba tetap yakinkan hati ini
"Yakinlah ! Ku tak berjalan sendiri,"
"Yakinlah ! Engkau pasti t'lah mengerti,"
Harapku jadilah dirimu seutuhnya
Yang kan mampu akhiri dusta yang ada

Yang tak Dimengerti



Adakah yang lebih indah
Dari seorang pujangga yang menanti cinta
Bait-bait kata tercipta di setiap detik penantiannya
Curahan asmara mewarnai sepi yang ia nikmati

Menerka apa yang kan ia dapati
Di kala badai t'lah berganti pelangi
Menari di tengah hujan
Khayalkan rasa yang ia teguhkan

Tiada setapakpun jalan yang ia sesalkan
Tiada sedikitpun sepi yang menggoyahkan
Hanya ia yang menerima siksa, berdo'a dalam diamnya
Tanpa menuntut bahagia atas pergorbanan yang tak terlihat oleh mata


Oleh : CayKun

Patah Arang (Putus Asa)



Senja t'lah kehilangan ronanya.
Asa t'lah kehilangan alasnya.
Sunyi datang bersama cerita,
memori lama yang tak terlupa.

Buta hati, gelap mata ...
Berakhir tanpa kata,
seolah s'mua hanya biasa,
seolah rasa t'lah binasa.

Ringan kakimu tuk beranjak,
tiada jejak yang kulacak.
Hujan datang patahkan arang,
badai pergi sisakan dendam.
Menepis suka, membungkam tawa,
menutup cerita yang ku puja.

Terimakasih atas derita.
Maafkan aku yang tak pernah melupa,
bahwa untukmu aku s'lalu punya rasa.

Antara Cinta dan Dusta


Di Balik Sepi ...

Selalu ada rasa yg bersembunyi,
berdiri di sela benci dan naluri tuk mencintai.
Hati bagai jeruji,
harus tetap mengukir cinta di sela duka,
agar indahnya tampak di liar gelapnya lara.

Mencibir penuh angkara,
mengutuk dia yang kau cinta.
Melihat setiap adegan,
tergolek lemah atas runtuhnya pengharapan.
Mencoba tenang,
berselimut duri kecewa yang menikam,
berusaha tegar dengan sesat yang mendalam.

Dialah segalanya !
kalimat indah penuh sayat darimu yang sedang tersesat.
Memuji atas kebahagiaan yang kau dapat,
melupa hati yang penuh harap.

Dia pendusta !
kerikil dendam yang kau lempar,
tanda terkatupnya perasaan.
Menghina pendusta yang kau bangga,
melupa cinta yang kau bina.

Mengetuk hati yang kau lupa,
menaruh asa pada hangat sambutnya.
Berpeluk lara atas penolakannya.

Dibalik Duka



Rindu menggebu ...
Menepis beribu malu yang mengganggu,
menaruh asa pada senja,
menanti mimpi menyingkap duka.

Terkumpul kecewa ...
Usaha terhapus tanpa tanda,
patah ara runtuhkan semua.
Menoreh rasa dengan pena,
mencurah luka atas kehilangannya.