Tampilkan postingan dengan label Puisi Harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Harapan. Tampilkan semua postingan

Selepas Senja



Tak lelah kah engkau berjalan ?
Lewati gersangnya Padang kehidupan
Yang tiada tertemu ujung
Meniti langkah demi langkah
Namun enggan melihat indahnya langit
Yang penuh pengharapan.

Hantaman badai yang berlalu
Sisa angin yang masih membawa pilu
Kemana sebenarnya arah yang kau tuju ?
Kala Gemintang remang redup
Memperhatikan mu terkulaikan
Namun engkau nampak senang

Kala kabut mulai datang
Berjalan riang selayaknya anak kecil pada taman impian
Tersenyum melihat cermin yang tak gambarkan kenyataan
Dera mimpi yang engkau jalani
Terasa lebih baik dari mimpi-mimpi yang kau lupakan ...

Tiada Arti












Ketakutan yang terendam
Di lepas lautan tak berujung
Tersapu oleh ombak tinggi
Titik tepi rasa sepi

Harapkan bintang kan tunjukan jalan
Namun tiada satu pun bersinar
Tertutup pekatnya kabut!
Redup buat s'mua terasa suntuk

Jikalau mentari kan hadir
Tetaplah tiada arti
Jikalau engkau ada disini
Tuntunlah rasa sepi hati ini
"Lelahku menanti datangnya hari!"
Karena cahaya yang tiada arti

A Leaf


Itu hanyalah sebuah daun
Sering kali kau abaikan
Jatuh satu per satu
Terbang rendah melayang di dekatmu
Sering kali kau tak acuhkan

Namun kini ia t`lah jauh
Saat kau kembali
Ia t`lah pergi
Saat kau pergi
Ia masih menanti
Terbawa angin entah kemana
Tak terarah menuju luas langit dunia
Andaikan kau bantu dia tuk terbang
Dia miliki tempat tuk berpulang
Kini Tersesat di rimba cakrawala
Mungkin kan dia temukan
Sesuatu yang tak pernah di damba
Namun sangat berarti untuknya

Perbedaan Yang Ada


Apa yang dapat disalahkan
Semua tak mungkin kan kembali
Dan t'lah jauh tertingal pergi
Apa yang dirasa berbeda
Waktu tetaplah berputar sama

Meski dunia t'lah berubah
Tak satupun terlihat berbeda
Keyakinan dan kepercayaan
Tiada yang mampu merubahnya
Tak seorang pun mampu menghapusnya

Biarlah mereka datang berbicara
Sampaikan s'gala rasa kebencian
Tak perduli seburuk apa yang ada
Dan itu takkan merubah semuanya

Kepergian Senja



Kepergian senja ...
Cakrawala terasa memilukan
Karena tak ingin lagi kurasakan
Dingin malam yang merasuk sukma
Menanti terbitnya buatku terjatuh terlalu dalam
Hingga lelap berikanku kesempatan
Hanya saja bukan mimpi indah tentangnya

Harapkan kedatangannya
Berikan kehangatan
Hadirmu kala redupnya dunia
Ceritamu yang hangatkan s'galanya
Bermimpilah bersamaku
Di lelap anganku
Ceritakan sedikit keluh kesahmu
Meski sebatas angan
Dan luasnya langit terbentang
Tetaplah diri ini tak mampu ungkapkan!
.
Harapan yang hanya sekedar luapan
Emosi yang terbendung terlalu dalam
Biarlah ... kutanggung s'mua beban

Karena ... tak ingin kau juga merasakan
Pahit dunia jikalau senja sirna
Akhir cerita keindahan nirwana
Kini harus kuarungi dunia fana
Dengan perasaan yang nyata
Yang masih tertahan s'gala dusta

Tetaplah tiada mampu
Terbang ke langit sana!
Sayap yang dirasa rapuh
Hati yang tiada sanggup tersentuh
Yakinkan diriku tuk slalu teguh
Namun tetaplah luluh
.
Langkah yang dirasa berat
Cahaya tertutup kabut pekat
Jatuhkan diriku yang tiada sanggup tuk dekat
Lesapkan erat sisa harapan

Kemanakah arah laju waktu ?
Terangilah redup hatiku
Yang kan iringi sisa mimpiku
Dan jatuh lelap bersamamu

Disisa akhir mimpiku
Harapkan kau ada di sana
Terbangun ... melihatmu luluhkannya
Tetes embun dan hangat mentari
Kicau burung yang tenangkan hati
Ranting-ranting lambaikan kebahagiaan
Dedaunan jatuh tergoyah angin

Kumohon ... Hentikan khayal ini
Kau tetaplah sebatas angan
Yang t'lah cukup terbiaskan
Kumohon ... Goyahkan s'mua yang ada
Harapkan jikalau memang nyata
Meski sebatas duka tertinggal
Setidaknya kan cukup akhiri semua
Meski sebatas luka torehkan
Setidaknya kan cukup awali sebuah cerita

Surakarta, 9 Mei 2017

Yakinlah!


T'lah lama sudah kita berjalan
"Sadarlah, hinggap rasa keangkuhan!"
Jelmakan rasa amarah yang terpendam
Dan membusuk terpenjarakan

Seuntai kata tetap tiada guna
Curahan s'gala rasa tertepis dusta
Masih Ingatkah kau yang t'lah terjadi
Berharap kau kan sadar s'lama ini

Masih ku disini nantikan hari
Mencoba tetap yakinkan hati ini
"Yakinlah ! Ku tak berjalan sendiri,"
"Yakinlah ! Engkau pasti t'lah mengerti,"
Harapku jadilah dirimu seutuhnya
Yang kan mampu akhiri dusta yang ada

Tetaplah Menjadi Cerita



Setiap jengkal nya terasa hangat
Dingin malam yang t'lah jauh terlewat
Sampaikan pesan-pesan penuh harap
Angkuhnya laju waktu menutup rapat

Mungkin kini kau t'lah terlelap
Masih ku terjaga dari indah cerita
Masih ku berharap angan kan kabulkan nya
Bayang nya di lelap mimpiku

Beralaskan asmara yang menggebu
Layaknya rembulan yang terangi kalbu
Serta pijar bintang di gelap cakrawala
Berharap setiap malam kan selalu sama
Kala senja menepi di ujung samudera
Kau berikan harap untuk mengejarnya

Sisa Waktu


Kan kunikmati sisa waktu ini
Meniti malam yang tak bertepi
S'dikit sandiwara mungkin sudahi
Hingga tiada tempat tuk kembali

Tiada sedikitpun rasa sesal
Meski hanya sedekat jengkal
Tak mampu sedikitpun terkatakan
Seuntai kata tuk sebuah alasan
.
Setiap waktu yang tersisa
Tak mungkin kembali begitu saja
Sebanyak apapun yang ada
Terbuang sia-sia tanpa mereka
Menghitung hari hentinya laju waktu
Setiap detik t'rasa cepat berlalu

Yang t'lah Mati

 
Cahayanya lama dirindukan
Namun timur tak berkata demikian
Hanya terlihat gelap awan
Hanya kesepian malam rembulan

Waktu ... seakan lambat berputar
Penantian dengan rasa yang t'lah legam
Asmara ... rasakan ia memudar!
Terlelap perlahan dan jatuh tenggelam

Katakan, jika memang benar adanya!
Apa daya sayap selain tuk terbang
Sendiri menuju indah cakrawala
Tanpa satu pun yang temani nya
Hingga terlarut terbawa mimpi
"Akankah asmara ini t'lah mati!"

Cahaya

 
Lelah ratapi s'mua keraguan
Kerinduan jejak sulit terhapuskan
Tulisan hitam catatan silam
Tersiratkan tanpa sedikit pun sesal

Tercermin pada genang air hujan
Bisik rintik tepis rasa kesepian
Tatkala payung berkata, "Tenanglah!"
Berikan teduh dari dera masalah

Berikan sedikit harap yang menggema
Namun tanpa katakan kepastian nya
Masih terbutakan belantara malam
Melangkah tak terarah berteman hujan
Tiada tetes yang mampu berikan!
Cahaya ... terangilah temaram jiwa

MAAF




Tidak!
Aku bukanlah orang yang baik hati
Iya!
Aku hanyalah seorang manusia yang penuh dengan dosa

Yang tak luput dari masalah
Yang tak lepas dari amarah
Yang sering menjadi tak terarah
Yang bangga akan salah

Akan berlabuh kemanakah perahu ini
Akan beranjak kemanakah hidupku ini
Begitu kata orang bijak

Betul!
Aku hanyalah seorang yang hanya bisa terhanyut dalam angan
Tapi!

Dirimulah yang menjadi kendaliku

Yang menjadi obat pereda saat diriku marah 

Yang menjadi semangat saat aku terpuruk
Yang membuatku tersenyum saat terobsesi oleh amarah
Yang selalu! selalu! selalu menutupi lubang di diriku

Cinta bagaikan candu
Yang menyakitkan tapi juga membuatmu lagi.. dan lagi


Tidak!
Tidak akan pernah bosan aku meminta maaf

Selalu

Hujan Lagi




Adakah engkau tak sudahi
S'makin larut rintik basahi
Rindukan hangatnya senja sejenak
Tak sanggup lagi tuk beranjak

Mengalir entah kemana?
Kau bawa luka yang pernah terlupa
Hasut lamunan tiada ku mengerti
Tiada lagi payung tuk ku kembali

Semakin gelap engkau terlihat
Tiada cahaya ... tiada harap
Rintik mu merambah hingga terhenyak

Perlahan kembali ku teringat
Kau paksa bangunkan dalam sekejap
Pergilah dan bawa s'gala jejak

Cerita Kala Senja

"Jikalau mentari menuju senja"
Katakanlah semua t'lah tiada
Nikmati semerbak hangat terasa
Tanpa setangkai bunga untuk menyapa

"Bawalah rindu kalbu ini"
Serupa engkau datang dan pergi
Meniti waktu yang kian selimuti
Hingga habis ambisiku untuk bermimpi

Tiada sudut lagi ku tuk berpaling
Cukup sudah terpaan kala senja
Tak ingin malam kan terasa hening
Ingin ku jatuh lelap dan kan terlupa
Ingin ku pagi mungkin kan sambutnya
Hingga hadir rasa tuk jalin asmara

TAK TAHU


apa yang kurasa
tersirat dalam asa
apa yang kutuju
tersirat dalam kalbu


terbesit sekilas gambaran masa depan
senyuman menawan dirimu dari depan
menusuk fikiran untuk sepemikiran


dulu aku tak paham apa yang kurasakan
bedebum menderu dum darah maengalir dalam jantung
genderang menderang terang trus irma nyayian perang 


ada conflict dalam diri
perseteruan antar ego yang mengambil alih diri
biarkan diri ini berenang dalam emosi
lautan yang sulit untuk dimengerti


terus kucoba untuk mengendalikannya
tertahan suka dan duka bersama dengan dirinya


kini semua tlah berubah
semua itu sekarang hanya sebuah bilah
bilah pedang yang sudah rapuh
yang akan hilang tertiup sang angin jatuh


jangan gunakan fikiran semata
untuk menjabarkannya
gunakan logika sebagi tumpuan
biarkan hati menuntun menuju jalan kebenaran

AKU DAN DIRIKU


Kegundahan hati hanya sesaat
Jangan tundukkan kepalamu kebawah!
Lihatlah sekelilingmu!
Keagungan TUHAN yang begitu besar 


Bunga bunga indah bermekaran di mana mana
Matahari memberi sinar semesta
Dan Hujan menyiraminya
Tat kala bumi ini haus akan kesegaran


Tatap kedepan
Jangan menoleh
Terus berjalan
Lurus ! Lurus ! Luruslah


Syukuri dan nikmati apa yang ada
Jangan sampai terhasut emosi sesaat
Karna hidup hanya sekali
Dan maknailah kehidupan itu dengan keindahan

Nostalgia


Kembali di sini
Di tempat dimana ku mulai bermimpi
Mereka, yang kini tak tertemui
Mencari jati diri...
Mungkin t'lah terlupa akan ranting ini

Kembali berjalan
Di sela waktu yang kian menekan
Memaksa kita untuk coba tinggalkan
Menjelma, menjadi sebuah ingatan
Belum terlupakan, teringat kan suatu alasan

"Adakah ... suatu alasan dan terlupakan"
Hingga perjalanan meninggalkan jejak
"Kemarilah ... teringatkah suatu jawaban"
Tepat saat kita tak saling mengenal
Kawan, adakah suatu hal yang tertinggal?

19, Arnanto K

Sisa Lamunan




Di sudut kota lusuh terbengkalai
Menyendiri mencari arti tersembunyi
"Salahkah apakah hamba"
Hingga tiada tempat tuk berkaca
"Dosakah Hamba"
Hingga mereka sebut pendusta

Terkulai bermandikan resah dan amarah
Terhimpit angkuhnya harapan tak tercurah
Bernaung gedung-gedung tinggi nan megah
"Akan adakah"

Walau pun tuk sekedar pelipur lara
Secercah gemerlap yang berarti
Masih mencari disisa gejolak peristiwa
Yang akan menuntun di redupnya hari


Arnanto K

Maret dan Mei




Masih menanti
Menghitung detik memukul kepala
Menghindar dari segala ancaman yang ada
Tetapi semua tetap sama, mulai jera

Memakan satu persatu kertas di meja
Mencatat rumitnya logika yang ada
Mengukir angan di kerasnya benjolan kepala
Mengapa tak segera mungkin kita pergi kesana
Menuju masa dimana tiada kebebasan
Kita yang membuat aturan
Melaksanakan dan mengindahkan
Menceritakan tentang pilunya debu bertebaran
Terbawa Angin hingga tiada tempat untuk pulang
Hinggap di dahan, beberapa masih tetap terbang
Beberapa telah tersungkur ke tanah
Bercampur aduk menjadi satu bagian

Apa yang diharapkan
Sudah habis waktu tuk bersabar
Maret masih ada di depan, Febuari telah terlupakan
Mei bukan gambaran kebebasan
Juni masih menanti penuh ancaman
Di balik sebuah cerita akan kebebasan
Menantikan penanya bisa kembali terdiam

Masih menanti
Masih mencari apa yang tersembunyi
Angan-angannya akan sebuah mimpi
Mimpi-mimpinya menjadi hal yang pasti
Disisa jari menghitung hari
Yang masih dinanti

Arnanto K

Patah Arang (Putus Asa)



Senja t'lah kehilangan ronanya.
Asa t'lah kehilangan alasnya.
Sunyi datang bersama cerita,
memori lama yang tak terlupa.

Buta hati, gelap mata ...
Berakhir tanpa kata,
seolah s'mua hanya biasa,
seolah rasa t'lah binasa.

Ringan kakimu tuk beranjak,
tiada jejak yang kulacak.
Hujan datang patahkan arang,
badai pergi sisakan dendam.
Menepis suka, membungkam tawa,
menutup cerita yang ku puja.

Terimakasih atas derita.
Maafkan aku yang tak pernah melupa,
bahwa untukmu aku s'lalu punya rasa.

Antara Cinta dan Dusta


Di Balik Sepi ...

Selalu ada rasa yg bersembunyi,
berdiri di sela benci dan naluri tuk mencintai.
Hati bagai jeruji,
harus tetap mengukir cinta di sela duka,
agar indahnya tampak di liar gelapnya lara.

Mencibir penuh angkara,
mengutuk dia yang kau cinta.
Melihat setiap adegan,
tergolek lemah atas runtuhnya pengharapan.
Mencoba tenang,
berselimut duri kecewa yang menikam,
berusaha tegar dengan sesat yang mendalam.

Dialah segalanya !
kalimat indah penuh sayat darimu yang sedang tersesat.
Memuji atas kebahagiaan yang kau dapat,
melupa hati yang penuh harap.

Dia pendusta !
kerikil dendam yang kau lempar,
tanda terkatupnya perasaan.
Menghina pendusta yang kau bangga,
melupa cinta yang kau bina.

Mengetuk hati yang kau lupa,
menaruh asa pada hangat sambutnya.
Berpeluk lara atas penolakannya.